The Perfect Fan


It takes a lot to know what is love
It's not the big thing but the little things
That can mean enough
A lot of players to get me through
There is never a day that passes by
I don't think of you
You were always there for me
Pushing me and guiding me
Always to succeed

You showed me
When i was young just how to grow
You showed me everything that i should know
You showed me just how to walk without your hands
'Cause mom you always were the perfect fan

God has been so good
Blessing me with the family
Who did all they could
And I've had many years of grace
And it flatters me when i see a smile on your face
I wanna thank you for what you've done
In hopes I can give back to you
And be the perfect son

You showed me how to love
You showed me how to care
And showed me that you would always be there
I wanna thank you for the time
And i'm proud to say you're mine

I love you, Mom..

(The Perfect Fan - BSB) -my favorite song when I was in junior high school..
special for a mother who taught her daughter to become a mother :)
read more...

"Menghadirkan hati"


Itu adalah motto saya memasuki tahun 2010 ini. Dengan berbagai resolusinya, hal yang paling saya evaluasi adalah kurangnya hikmah yang saya ambil dari berbagai peristiwa yang saya alami. Dalam sehari, kesempatan tiap orang untuk mengambil hikmah sama banyaknya, 24 jam. Namun seringkali kejadian yang kita alami dalam sehari hanya merupakan rutinitas yang begitu-begitu saja. Bahkan mungkin saja, 10-20 tahun lagi, memori kita tentang ”hari-hari biasa” ini akan lenyap begitu saja.

Saya sangat menyukai statement ”tidak ada daun yang jatuh tanpa izin Allah”. Statement itu memberikan pesan kepada saya bahwa setiap senti-nya, Allah telah mempersiapkan skenario untuk kita. Apakah kita mampu memahaminya atau tidak, tergantung bagaimana kita meresapi setiap kejadian yang terlewat itu.

Menghadirkan hati.

Menghadirkan hati ketika shalat, meresapi setiap doa yang kita panjatkan.
Menghadirkan hati saat mulai belajar, hingga ilmu yang kita pelajari itu membuat kita semakin takjub pada ke-MahaSempurna-an ciptaanNya.
Menghadirkan hati ketika melihat raut wajah orangtua kita yang kelelahan saat kembali dari pekerjaannya.
Menghadirkan hati dalam setiap proses yang sedang kita jalani.. :)

”Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf : 179)
read more...

Diskusi : Di bulan Ramadhan.. Mengaji atau Mengkaji?


Mengapa kita diwajibkan untuk berpuasa pada bulan Ramadhan..?
Sebagian dari kita menjawab : agar kita dapat memahami kondisi saudara-saudara kita yang kurang beruntung, yang seringkali kelaparan

Sebagian lainnya menjawab : agar kita menjadi orang yang bertaqwa, seperti dalam surat Al-Baqarah 183

”Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Well, kalau kita perhatikan lebih jauh,
- agar memahami kondisi saudara kita yg kurang beruntung
- agar kita menjadi orang yang bertaqwa
adalah sebuah akibat dari berpuasa, bukan penyebab..

sekarang, yuk mari kita perhatikan ayat setelahnya..

”Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa diantara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah...” (Al-Baqarah : 185)

Ramadhan, merupakan bahasa Arab yang berasal dari kata ra-mi-dha. Kata ini memiliki arti ”panas” atau ”panas yang membakar”. Ketika kita berpuasa, maka kita selalu berusaha membersihkan hati, mensucikan diri, menghindari hal-hal yang dilarang dalam Islam. Hingga pada akhirnya kita kembali fitrah pada penghujung bulan, yang sering kita peringati sebagai ”Idul Fitri”.

Pada ayat di atas, kita diwajibkan untuk berpuasa pada bulan Ramadhan karena pada bulan itu Allah menurunkan Al-qur’an yang merupakan petunjuk, penjelasan, dan pembeda bagi manusia. Ketika kita berpuasa, hati yang bersih dan jauh dari perbuatan maksiat akan mengakselerasi kemampuan kita untuk menangkap hikmah dari setiap pelajaran yang kita dapatkan, termasuk ketika mengkaji Al-qur’an. Untuk itu, ketika Ramadhan ini Allah menurunkan begitu banyak hikmah Al-qur’an, Allah mewajibkan berpuasa.

So, sudah sepatutnyalah bagi kita untuk terus bercengkrama dengan Al-qur’an. Bukan hanya sekedar komat-kamit seperti kereta express dengan tujuan akhir khatam beberapa kali sepanjang Ramadhan, namun lebih dari itu, mentadabburinya. Bukankah Al-qur’an itu petunjuk, penjelasan, dan pembeda?

Analogi sederhananya adalah sebagai berikut :
Anggap saja ada seorang ibu yang memiliki anak yang kini sedang bersekolah di Jepang sejak kecil. Sang ibu hanya bisa berbahasa Indonesia, sedangkan si anak hanya berbahasa Jepang. Suatu ketika sang ibu mengirimkan surat kepada anaknya. Ibu itu berpesan agar anak itu membaca surat itu baik-baik, bahkan sang ibu memberikan imbalan 10 rupiah untuk setiap huruf yang dibacanya.

Hingga suatu hari, sang anak pulang ke Indonesia dan menemui ibunya. Kemudian ibu itu bertanya : ”Nak, apakah kau sudah membaca surat dari ibu..?”
Sang anak menjawab : ”Sudah, Bu..”
Sang ibu bertanya lagi : ”Kalau begitu, apa saja nasehat Ibu untukmu, Nak?”
Sang anak tidak dapat menjelaskan isi dari surat itu kepada ibunya, dan tentu sudah dapat kita simpulkan bahwa yang diinginkan oleh sang ibu bukan seperti apa yang dilakukan oleh anaknya.

Mudah-mudahan ini bukan refleksi diri kita ketika membaca Al-qur’an.

Allah berfirman dalam Al-qur’an, mengenai kenikmatan orang-orang yang diberi hikmah.

”Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (Al-Baqarah : 269)

Marhaban yaa Ramadhan, mari kita berdoa dan terus berlomba-lomba untuk menggali hikmah Al-qur’an hingga akhirnya hikmah Ramadhan akan terus membekas di dalam hati kita, sebelas bulan kedepannya, sampai akhir masa.

read more...