I See The Light



dedicated to my lovely husband, Hilmi Sulaiman Rathomi :)

and at last I see the light.. and it's like the fog has lifted..
and at last I see the light.. and it's like the sky is new..
and it's warm and real and bright..
and the world has somehow shifted..
all at once everything looks different..
now that I see you..

(OST Tangled)

read more...

Wedding Puzzles #2 : Seorang Ayah

“Ayah, masih ingat kakak seniorku yang waktu itu..?”

20 tahun sudah, saya menikmati surga dunia yang Allah titipkan lewat ayah saya. Bukan berlebihan jika saya menyebutnya sebagai surga dunia, butuh makan tinggal minta, baju-baju tersedia, tempat tinggal nyaman di pinggiran kota.

Ayah layaknya malaikat yang Allah utus untuk menjaga saya, mengajarkan saya tentang hikmah kehidupan. Ia yang pertama kali memahamkan tentang Pencipta Segala. Ia betul-betul layak saya sebut sebagai malaikat pelindung. Tidak ada putusnya, dari penjagaan yang satu ke penjagaan yang lain.

"Barang siapa memelihara dua anak perempuan, memberi nafkah kepada keduanya dan membaguskan pemeliharaan keduanya sampai keduanya dewasa, maka akan datang di hari kiamat aku dan dia." rasul mengepalkan jari-jari beliau

(HR Muslim, Tirmidzi, Ibnu Hibban)

Hadist ini yang Ayah sampaikan ketika saya menginjak usia remaja. Mau kan, kak, nyelametin Ayah & Mamah di akhirat nanti..? Berbekal hadist ini, saya berusaha menjaga diri dan kehormatan. Juga menjaga adik perempuan saya satu-satunya.

Sesekali kami berdiskusi, tentang kehidupan kuliah, amanah-amanah, kondisi adik-adik, serta rencanya masa depan. Tidak dapat dipungkiri, semakin hari kami semakin paham bahwa saya sudah memasuki masa-masa peralihan. Berjalan untuk beralih dari satu surga ke surga yang lain, dari keluarga intiku membentuk sebuah keluarga baru.

Lamaran itu datang, Ayah sayang..

Saya tidak akan pernah bisa melupakan goresan senyumnya saat membaca segala informasi yang saya berikan. Satu per satu kalimat dibacanya dengan teliti. Sesekali ia tertawa, sejurus kemudian wajahnya kembali serius. Saya paham, bukan hal yang mudah baginya melepaskan titipan Allah dan memastikannya jatuh kepada orang yang tepat.

Hari demi hari berlalu, sudah tidak terhitung berapa kali ia mengusap kepala saya, menceritakan hikmah-hikmah dalam hidupnya, termasuk kehidupan berumah tangga. Ratusan bahkan ribuan stok senyum dan tawa ia keluarkan untuk menenangkan buah hatinya yang sedang mempersiapkan jiwa raganya untuk sebuah pernikahan.

Ayah.. aku sungguh tahu ini tak mudah.

Setiap waktu dan kesempatan, ayah menanamkan nilai-nilai dan prinsip hidup kepada seseorang yang kelak akan menjadi imam saya. Sesekali mereka berdiskusi, membicarakan banyak hal, membentuk kesepahaman yang laras.

Waktu terus berjalan. Doa-doa dipanjatkan, memohon ridhoNya atas apa yang kami usahakan. Mengharap Allah memberikan kekuatan kepada Ayah untuk menggenapkan tugas terakhir bagi anak perempuannya, menikahkan.

Hingga hari itu datang..

read more...

Wedding Puzzles #1 : Keyakinan


“I don’t know much, but I know I love you.. and that maybe all I need to know..”
(Linda Ronstadt & Aaron Neville)

Tidak pernah terbayang sebelumnya –setidaknya dalam logika sederhana saya- bahwa saya akan menerima lamaran seorang laki-laki yang baru saya temui sekali sepanjang hidup. Tidak pernah ada sejarahnya, saya begitu mudah mengambil sebuah keputusan, apalagi untuk sebuah keputusan besar yang akan menentukan kehidupan saya setelahnya, dunia akhirat!

Dalam folder-folder -setengah rapi- di otak saya, ada loker-loker yang harus saya sambangi dalam menentukan sebuah keputusan. Keputusan akan berbuat apa, makan apa, berkunjung ke kediaman siapa, dan sebagainya. Logika saya seringkali menjadi raja dalam setiap aktivitas yang saya lakukan, dan si logika selalu memaksa untuk menjadi yang terdepan.

Jika saya memberikan kesempatan logika berbicara, ia akan bersuara dengan lantang, “mengenal seseorang –apalagi calon suami- tidak bisa hanya sekedar berinteraksi minim dengannya, tidak mungkin hanya sekedar membaca tulisan, tanpa ada interaksi intens di antara kalian berdua”

Tapi.. logika itu bertekuk lutut pada suatu malam. Dikalahkan oleh sebuah desain peradaban..

Ya, sebuah desain peradaban, yang membuat saya tidak perlu berpikir sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan lamanya. Tidak perlu bagi saya untuk menambahkan variabel-variabel sekunder dalam menimbang. Cukup satu, sebuah visi.

Tergambar dengan cukup jelas dalam benak saya, bagaimana saya –jika kelak menjadi istrinya- dapat mendayagunakan minat, kesempatan, dan kemampuan untuk mencari keridhoan Pemilik Masa Depan.

Kejernihan dan keseragaman visi, menjadikan sebuah keraguan menjadi keyakinan yang terhujam. Ia menjadi sebuah
booster energi yang tidak pernah putus dalam merancang project-project berkelanjutan. Kejernihannya mengukir senyuman ketika rintangan mulai datang.

Allah-lah yang memberikan karunia keyakinan kepada hamba-hambaNya yang ia kehendaki. Allah pula yang memberikan pemahaman ke dalam setiap hati, kepada siapa kesudahan-yang-baik dipusakakan (7:128).

Bismillah..
:)
read more...

Ibu Cerdas : Paham Tahapan Perkembangan Anak



Ada sebuah ilustrasi yang menarik tentang bagaimana pentingnya orangtua, guru, atau siapapun yang berkiprah dalam dunia pendidikan formal maupun informal memahami tahapan perkembangan anak.

Suatu ketika, seorang anak yang sedang berada dalam tahap fantasi menginginkan roti manis yang tidak dimiliki oleh ibunya. Respon ibu yang tidak memahami tahapan perkembangan anaknya tersebut akan menanggapi anak secara nalar dan terjadilah dialog sebagai berikut :

Anak : “Bu, aku mau roti manis yang waktu itu”
Ibu : “Ngga ada, Nak”
Anak : “Ibu, mau roti manis..roti manis..” sambil menjerit-jerit
Ibu : “Udah Ibu bilang ngga ada! Kamu makan roti kering yang ini aja!”
Anak : “Ngga mau. Aku maunya roti yang itu” si anak mulai menangis meraung-raung dan berguling-guling di lantai
Ibu : “Udah bangun, kamu nih kayak anak bayi aja.”

Lain halnya dengan Ibu yang memahami anaknya sedang berada di tahap fantasi. Si Ibu memberi respon sesuai dengan tahapan perkembangan si anak tersebut. Beginilah percakapannya :

Anak : “Bu, aku mau roti manis yang waktu itu”
Ibu : (sambil mendekati anak itu dan mengelus-elus kepalanya) “Pinginnya sih ya, tapi ngga ada.. Adanya roti kering nak”
Anak : “Tapi aku mau yang itu, Bu”
Ibu : “Ya ya, Ibu tahu kamu mau yang manis.”
Anak : "Tapi aku maunya sekarang"
Ibu : (duduk bersama anak itu dan mengikuti fantasi si anak) "Hei Doraemon, kami ingin roti manis yang itu, tolong keluarkan roti manis satu kotak dari kantung ajaibmu”
Anak : “Bu… kalau roti kering, ada ngga? …aku mau yang itu aja deh”
Ibu : “Oh”

Ibu yang tidak memahami tahapan perkembangan anaknya, dihadapkan pada anak yang menangis, meraung-raung, dan berguling-guling di lantai. Sedangkan ibu yang memahami dan mampu mengimplementasikan tahap-tahap perkembangan anak dapat mampu memenuhi harapan fantasi anaknya tanpa muncul persoalan baru.

Referensi : “Psikologi Perkembangan Anak & Remaja” Dr.H. Syamsu Yusuf LN., M.Pd

-terinspirasi dari topik skripsi yang sedang saya susun “Hubungan Pengetahuan Ibu mengenai Perkembangan Balita dengan Tingkat Perkembangan Balitanya”- doakan lancar ya^^

read more...

ماهر زين - إن شاء الله



(Maher Zain - InsyaAllah, new edition)
read more...

Bedtime Story


Bunda, bacakan aku dongeng tentang putri kecil
Ya, putri yang itu… yang -kata Bunda- sangat kau sayang setengah mati.
Tolong ceritakan padaku, Bunda, bagaimana kisah selanjutnya..?


Putri kecil itu sebentar lagi akan dijemput oleh Sang Pangeran, Sayang...
read more...

and my story goes..

video

nb : thanks to Nestri for the video :) read more...

Berdialog Dengan Waktu


Akan datang masanya bagi setiap wanita untuk berjalan, pelan-pelan..
Dari surganya yang lama menuju surga yang lain.
Dari senyum yang lama, menjadi simpul senyum yang lain.

Akan datang masanya, ketika ke-MahaKasihSayang-an Allah terejawantah dari sudut yang lain, dengan cara yang lain.
“Lain” yang terkadang membuatnya takut untuk berjalan lebih cepat, pelan-pelan saja. Ya, pelan-pelan.

Seringkali wanita berdialog dengan waktu..
Sang waktu seakan sulit untuk mengajaknya bercanda, “tinggal beberapa hari lagi, sayang, aku akan menemanimu, semampuku..”

..dan nanti, aku pun akan menemanimu merangkai hari-hari indah setelahnya..

Sang waktu tidak pernah berhenti mengajaknya berbincang, tentang betapa singkat dan berharga dirinya..

sayang, aku berjalan antara masa kecil dan masa tua, memberikan rentang bagi ragamu yang kuat dan sehat, untuk berkarya bagi ummat..

Maka wanita itu pun tersenyum dan mengangguk paham.. tidak perlu lagi bagi sang waktu untuk menjelaskan tugas utamanya sebagai wanita sekaligus hambaNya.

read more...

The Perfect Fan


It takes a lot to know what is love
It's not the big thing but the little things
That can mean enough
A lot of players to get me through
There is never a day that passes by
I don't think of you
You were always there for me
Pushing me and guiding me
Always to succeed

You showed me
When i was young just how to grow
You showed me everything that i should know
You showed me just how to walk without your hands
'Cause mom you always were the perfect fan

God has been so good
Blessing me with the family
Who did all they could
And I've had many years of grace
And it flatters me when i see a smile on your face
I wanna thank you for what you've done
In hopes I can give back to you
And be the perfect son

You showed me how to love
You showed me how to care
And showed me that you would always be there
I wanna thank you for the time
And i'm proud to say you're mine

I love you, Mom..

(The Perfect Fan - BSB) -my favorite song when I was in junior high school..
special for a mother who taught her daughter to become a mother :)
read more...

"Menghadirkan hati"


Itu adalah motto saya memasuki tahun 2010 ini. Dengan berbagai resolusinya, hal yang paling saya evaluasi adalah kurangnya hikmah yang saya ambil dari berbagai peristiwa yang saya alami. Dalam sehari, kesempatan tiap orang untuk mengambil hikmah sama banyaknya, 24 jam. Namun seringkali kejadian yang kita alami dalam sehari hanya merupakan rutinitas yang begitu-begitu saja. Bahkan mungkin saja, 10-20 tahun lagi, memori kita tentang ”hari-hari biasa” ini akan lenyap begitu saja.

Saya sangat menyukai statement ”tidak ada daun yang jatuh tanpa izin Allah”. Statement itu memberikan pesan kepada saya bahwa setiap senti-nya, Allah telah mempersiapkan skenario untuk kita. Apakah kita mampu memahaminya atau tidak, tergantung bagaimana kita meresapi setiap kejadian yang terlewat itu.

Menghadirkan hati.

Menghadirkan hati ketika shalat, meresapi setiap doa yang kita panjatkan.
Menghadirkan hati saat mulai belajar, hingga ilmu yang kita pelajari itu membuat kita semakin takjub pada ke-MahaSempurna-an ciptaanNya.
Menghadirkan hati ketika melihat raut wajah orangtua kita yang kelelahan saat kembali dari pekerjaannya.
Menghadirkan hati dalam setiap proses yang sedang kita jalani.. :)

”Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf : 179)
read more...