Smart Baby


“Nak, makanan itu masuk lewat mulut, esophagus, gastric, duodenum, jejunum, ileum, colon, dan keluar di anus..” kata seorang ayah sambil menunjuk2 posisi organ2 itu kepada anaknya yang baru berumur 1 tahun.

1 tahun....?


Menurut ilmu psikiatri, kemampuan komunikasi anak berumur 1 tahun diantaranya :
- mengenali namanya
- mengikuti gerakan2 simple
- mengucapkan 1-2 kata
- menggunakan gesture untuk menyampaikan perasaannya (menangis, menunjuk2 benda, dsb)

Anak berumur 1 tahun belum dapat berbicara, ia baru mampu mengucapkan 1-2 kata yang familiar seperti ”mama”, ”daadaa

(Clinical Psychiatry, Kaplan&Sadock’s)

beberapa tahun kemudian saat si anak sudah mulai dapat berbicara..

ia mendapati sang nenek tersedak saat mencoba untuk menelan makanan, kemudian anak ini berkata

Nek, makanan itu masuk lewat mulut, esophagus, gastric, duodenum, jejunum, ileum, colon, dan nanti keluar di anus!

anak itu menyebutkan dengan lengkap apa yang dikatakan oleh ayahnya beberapa tahun yang lalu.. =)

Ternyata memang, walaupun seorang anak belum dapat berbicara pada umurnya, namun perkembangan otaknya sedemikian pesat sehingga ia mudah menerima informasi dari lingkungan di sekitarnya.

Perkembangan otak terbaik adalah pada umur 0-5 tahun yang biasa disebut sebagai Golden Period. Masa ini adalah masa-masa yang sangat penting dalam perkembangan kecerdasannya.


Bukan hal yang mustahil bagi seorang anak untuk menyimpan memori yang ia terima, kemudian mengolahnya di kesempatan yang lain dan mengeluarkan memori itu saat diperlukan.

Jika sang ayah mengajarkannya tentang organ2 sistem pencernaan,

bagaimana jika para orang tua selalu memperdengarkan dan mengajarkan Al-Qur’an...?


read more...

Ahsanu 'Amala

There must be a reason why Allah placed me here,,

Itu statement yang pertama muncul di kepalaku saat pertama kali menginjakkan kaki di Jatinangor, daerah kecil di pinggiran kota Bandung..

Berulang kali aku berpikir, apa yang bisa kuberikan untuk daerah ini..?
Aku ada disini, namun tak sekedar ingin ”ada”, tak sekedar ingin ”numpang lewat”..

Ya Allah, tunjukkanlah “ahsanu 'amala” yang dapat kupersembahkan untukMu disini..

“Maha Suci Allah yang Menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang Menciptakan mati dan hidup untuk Menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.”
(Al-Mulk : 1-2)


(adik-adik di salah satu desa di Jatinangor)
malu-malu tapi lucu^^

read more...

Fathimah dan ’Ali

[Edisi spesial walimah teh Mia’06 & kang Deta’03]

What a beautiful day =)
melihat kakak seniorku yang cantik dari angkatan 2006, di hari pernikahannya..
Memperhatikan bagaimana kebahagiaan dan keharuan itu terpancar dari rona wajahnya, setelah mitsaqan ghaliza itu diucapkan dengan penuh penghayatan..
hingga menghadirkan “tamu tak diundang” yaitu air mataku..

Hmm, subhanallah =)












Teringat sebuah kisah yang belum lama ini kubaca, kisah puteri Nabi, Fathimah, dan ‘Ali..

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.

Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.
Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.
Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.
Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!

Maka gadis cilik itu bangkit.
Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.
Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.
Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.
Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.
Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.
Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr.
Kedudukan di sisi Nabi?
Abu Bakr lebih utama,
mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali,
namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.
Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah
sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.
Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..
Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..
Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?
Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.
Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak.
Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.

Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.
Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.
’Umar ibn Al Khaththab.

Ya, Al Faruq,
sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
’Umar memang masuk Islam belakangan,
sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.
Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?
Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?

Dan lebih dari itu,
’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,
”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.
Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya.
’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.
Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.
Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir.
Menanti dan bersembunyi.

’Umar telah berangkat sebelumnya.
Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.
”Wahai Quraisy”, katanya.
”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.
Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”

’Umar adalah lelaki pemberani.
’Ali, sekali lagi sadar.
Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah.
Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak.
’Umar jauh lebih layak.
Dan ’Ali ridha.
Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak.
Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?
Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah?
Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah?
Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.
Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka?
Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu?
Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.
”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi.
Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.
Ya, menikahi.

Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.
Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.
Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap?
Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap?
Tidak. Usianya telah berkepala dua sekarang.

Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.
Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya.
Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.
Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!

Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung.
Apa maksudnya?
Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan.
Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
Mungkin tidak sekarang.
Tapi ia siap ditolak.
Itu resiko.
Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab.
Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan.
Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
Entahlah..
”Apa maksudmu?”
Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban?
”Satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!
Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah.
Dengan menggadaikan baju besinya.
Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.
Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.

Seperti ’Ali.
Ia mempersilakan.
Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.

[Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah]

Betapa agungnya cinta yang Allah anugerahkan kepada kita,
betapa indahnya =)

untuk seseorang yang belum terbayang wajahnya..
belum tergambar perangainya..

belum terdengar sapaannya..
belum terlintas senyumannya..

sayangi calon ”kakak” ku Ya Allah,
mudahkanlah jalannya menggapai ridhoMu..
dan menemukanku disini..


hihi, udah ah. (tutup!) ^^












read more...

Memori Habiburrahman

Sembari menyusuri pelataran masjid, terlihat pemandangan yang begitu jelas dan (kalau boleh berkomentar) eksotis.

Malam ini, bukan taburan bintang-bintang yang membuat terpesona, bukan juga fase bulan sabit atau purnama yang mengalihkan perhatian, tapi pemandangan yang berbeda.

Pelataran masjid itu dipenuhi oleh lingkaran-lingkaran kecil. Lingkaran yang disusun oleh seorang ayah, ibu, dan anak-anaknya. Dimana-mana.

Ngga jarang juga anak-anak yang berlarian di sekitar masjid, anak-anak perempuan manis berkerudung yang ngga mau lepas dari ibunya, ataupun yang main kesana-kemari dengan teman-teman sebayanya.

Hihi.. lucunya.. ^^

Lucu, melihat anak-anak yang sudah sedemikian akrab dengan masjid ini..
Lucu, memperhatikan bagaimana kolaborasi si ayah dan si ibu untuk membina anak-anaknya.

Ya Rabb, biarkan aku menjadi saksi ikhtiar para orang tua di masjid ini dalam mencetak generasi Rabbani =)












-Masjid Raya Habiburrahman, 23 Ramadhan 1430 H-

read more...

Untukmu yang pernah merasa sendiri


Bersyukurlah, wahai sahabat.. karena itu adalah sebuah anugerah..

Bersyukurlah, karena kau mendapat kesempatan untuk lebih memahami kata ”senda gurau” yang dinobatkan olehNya untuk DUNIA

”Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Tidakkah kamu memahaminya?” (Al-an’am : 32)

Bersyukurlah.. dengan itu kau mampu memahami,
Siapa yang tak pernah meninggalkanmu..
Siapa yang selalu memerintahkan jantung untuk memompa darahmu..
Siapa yang melindungimu dikala kau terlelap..

”Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?..” (Az-Zumar : 36)

read more...

Kerinduan..

Untuk seseorang yang mencintaimu,
mencintaiku,
dan seluruh ummatnya..
dengan segenap jiwa dan raganya..


Seseorang yang setiap malam terbangun,
berdoa dalam tangisnya..
untuk kebaikanmu,,

kebaikanku..
kebaikan seluruh ummatnya..

Seseorang yang merindukan untuk berjumpa denganmu,
denganku,
bertemu seluruh ummatnya yang belum sempat berjumpa denganny
a..

Seseorang yang berjuang berdarah-darah..
untuk keselamatanmu,
keselamatanku..
keselamatan ummatnya dunia akhirat..

Seseorang yang bahkan hingga akhir hayatnya memikirkanmu,
memikirkanku,

memikirkan ummatnya..

Seseorang yang sungguh mempesona..
Nabimu,
Nabiku,
Nabi kita..
Muhammad Rasulullah, shalallahu ’alaihi wasallam.

Allahumma shalli wasallim, wabarik 'alaih..



-izinkan kami berjumpa dengan seseorang yang kami cintai+sangat mencintai kami ya Allah (amin)-

read more...

Shalat Everywhere

Teman2.. banyak hikmah yang kudapat saat mengamati foto-foto di bawah, mudah2an hikmah itu akan terus berlanjut, disini.. ^^

"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingatKu" (20:14)

kapanpun.. dimanapun..

walau sempit tapi hati lapang.. ^^


dan salju pun menjadi saksi..


berzikir bersama ombak..


di atas kapal.. kiblatku tetap di ka'bah


atas, bawah.. yang penting jamaah


shalat dulu baru rezeki


di padang pasir..

di atas batu..


jamaah memang bikin anget^^


di antara reruntuhan bangunan


di hutan..


di atas bis.. subhanallah


barisan yang rapi, dimanapun

di pesawat..

pictures' source : bungakehidupan (wordpress)

read more...

Masih Amankah..?

Tiba-tiba gedung kuliah itu bergetar, meja tempat kami berdiskusi kelompok menghentak beberapa kali. Lemari besi yang cukup besar di ruangan kami berbunyi nyaring. Jendela berderit. Air kolam yang berada tepat di tengah kampus kini bergelombang dan menumpahkan sebagian isinya ke pinggir kolam. Itu semua cukup menyadarkan kami akan apa yang sedang terjadi.

Gempa ini tidak begitu besar seperti yang terjadi di Tasikmalaya yang letaknya 3 jam dari kampus, namun cukup untuk merobohkan ratusan rumah di berbagai tempat di selatan Jawa Barat.
Dan cukup meretakkan beberapa dinding kostan ku (masyaAllah, mudah2an ngga ada gempa susulan...)

Sahabatku, bumi tempat kita berpijak, seolah-olah begitu kokoh menopang kita dan seluruh kehidupan. Tak pernah terpikir tanah yang biasa kita lewati
untuk berangkat kuliah pagi-pagi bisa berguncang seperti itu.

Betapa tidak amannya kita sahabat...
Setebal a
papun beton yang digunakan untuk mengokohkan jalan dan bangunan, pada akhirnya hanya seperti batangan-batangan tanpa makna.









ketika bumi bukan lagi tempat untuk berlindung, kemanakah kita dapat memohon perlindungan selain pada Allah Ash-Shomad yang bergantung kepadaNya segala sesuatu..

ketika rasa aman tidak lagi kita temukan, kemanakah kita dapat menemukan
nya selain pada Allah As-Salam Yang Memberi Keselamatan.. =)

"Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?" (Al-Mulk : 16)

pikiran yang muncul sesaat setelah semua keributan di kampus mereda,,

ditulis ba'da subuh, entah kenapa rasanya begitu sulit untuk tidur tadi malam..
read more...

Mahasiswa FK untuk Kedokteran Islam Indonesia?

Teman2ku tersayang, sebelum kita melangkah lebih jauh tentang bagaimana peran mahasiswa kedokteran terhadap Kedokteran Islam Indonesia, yuk kita tanyakan pada diri kita masing-masing, sudahkah kita paham tentang kondisi real kedokteran islam di Indonesia saat ini? Karena pemahaman tentang ini justru harus kita pahami terlebih dahulu, agar nantinya kita sebagai mahasiswa kedokteran dapat menentukan ranah apa yang tepat bagi kita untuk bergerak mengembangkannya =)

Kedokteran Islam Indonesia
Dalam sebuah seminar yang dibawakan oleh seorang pengamat kedokteran islam, yang juga merupakan dosen di Fakultas Kedokteran UMY, dr.Sagiran,SpB,M.Kes, banyak informasi yang bisa kita dapatkan tentang bagaimana kondisi kedokteran islam di Indonesia saat ini.

Di Indonesia terdapat lima buah lembaga fatwa yang menaungi permasalahan kedokteran islam. Diantaranya :
1. Lajnah Bahtsul Masail Diiyyah (di bawah Nahdatul Ulama)
2. Majelis Tarjih (di bawah Muhammadiyah)
3. Komisi Fatwa MUI
4. Dewan Hisbah PERSIS
5. Majlis Pertimbangan Kesehatan dan Syara’ (MPKS, di bawah DepKes RI)

Tiap-tiap lembaga berisi para ulama yang cukup aktif merespon tentang isu kedokteran modern yang berkembang di Indonesia. Namun mari kita perhatikan lebih seksama, lembaga-lembaga tersebut dibentuk sejak tahun 1926. Menurut pemaparan dokter Sagiran, mereka telah membahas 437 masalah. Namun, masalah kedokteran yang terbahas baru sekitar 27 masalah (13,3%). Dan belum ada peran aktif dari generasi kita sebagai mahasiswa dalam peningkatan prduktifitas kajian masalah-masalah tersebut.

(Referensi : Makalah seminar dr.Sagiran,SpB,M.Kes, di Unissula)

Posisi strategis Mahasiswa FK
Pertanyaan selanjutnya, sebetulnya bagaimana sih posisi organisasi mahasiswa kedokteran muslim di Indonesia? Yuk kita zoom out dulu..

Pada tingkat dunia, kita mengenal organisasi bernama FIMA (Federation of International Medical Association) yang berisi tenaga medis dari berbagai negara. Tiap-tiap negara diwakili oleh satu badan organisasi, Indonesia diwakili oleh IIMA (Indonesia Islamic Medical Association). Nah, IIMA itu sendiri membawahi tiga buah organisasi, diantaranya :
  1. FOKI (Forum Kedokteran Islam Indonesia) : berisikan mahasiswa fakultas-fakultas kedokteran di Indonesia
  2. IMANI (Islamic Medical Association and Network of Indonesia) : beranggotakan kaum muda islam yang terutama bergerak di bidang relief daerah konflik dan bencana alam
  3. MUKISI (Majelis Syura Kesehatan Islam Seluruh Indonesia) : yang diikuti oleh rumah sakit-rumah sakit islam di Indonesia

Buat apa sih bicara soal ini? Karena, dari sini kita semakin mengetahui bahwa kita sebagai mahasiswa kedokteran sudah memiliki posisi yang strategis dalam pengembangan kedokteran islam di Indonesia. Selanjutnya, tinggal bagaimana dan darimana kita harus berperan?

Yuk, identifikasi SWOT kita =)
Strength (kekuatan)
Kekuatan kita sebagai muslim adalah islam itu sendiri. Bagaimana bisa begitu? Jelas. Islam merupakan agama yang komprehensif, menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan. Dan bidang kedokteran ini sangatlah menunjukkan bahwa Islam adalah sebenar-benar agama. Dimulai dari banyaknya ayat-ayat Al-qur’an yang terbukti kebenarannya lewat ilmu kedokteran, kemudian banyaknya pembuktian tentang korelasi ibadah dalam islam dengan kesehatan, dan masih banyak lagi.

Selain itu, islam pernah memimpin peradaban dunia. Ketakutan negara barat terhadap islam ditandai dengan adanya perang pemikiran (ghazwul fikri) dengan menyebar fitnah bahwa islam adalah teroris.

Weakness (kelemahan)
Kelemahan terbesar kita adalah karena kita tidak menyadari kekuatan kita. Kita tidak mampu memahami bahwa ilmu pengetahuan (termasuk bidang kedokteran) dapat mengangkat islam lewat segala pembuktiannya.

Kita juga masih belum mampu melihat sosok teladan kita, Rasulullah, dalam berbagai aspek kehidupan. Seperti aspek sosial, militer, politik, ekonomi, dan lainnya. Sehingga, contoh agung itu hanyalah menjadi panutan dalam keagamaan saja.

Opportunity (kesempatan)
Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, posisi strategis kita sebagai mahasiswa kedokteran merupakan sebuah kesempatan yang sudah terbuka lebar bagi kita untuk memulai adanya pergerakan baik pemikiran intelektual maupun gerakan massive bagi perkembangan kedokteran islam kedepannya.

Threat (ancaman)
Masih banyak pihak-pihak lain yang tidak menginginkan berkembangnya kedokteran Islam.

Alternatif solusi
Terus gimana ya solusinya..? yuk kita kaji sama2^^
Disini, saya coba untuk memaparkan beberapa solusi. Inti dari solusi yang coba saya berikan adalah membangun sebuah paradigma baru tentang hakikat dari ilmu kedokteran islam itu sendiri.

Paradigma yang sebaiknya ditanamkan adalah :
Kewajiban seorang muslim
Muslim dengan kewajiban kita untuk berkontribusi dalam kemajuan islam. Berkontribusi bukanlah sekedar ”ikut membantu” namun kontribusi adalah mengenali potensi diri, memahaminya, melatihnya, dan mendayagunakan potensi itu untuk kebermanfaatan maksimal dalam kemajuan islam. Dalam hal ini, potensi kita jika dibandingkan dengan muslim lainnya adalah kemampuan dan pengetahuan medis, disinilah kita dapat berperan lebih.

”Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapa di antara mereka yang terbaik amalnya” (Al-kahfi:7)
Pemahaman masalah
Selain itu, kita mencoba untuk memberikan pemahaman tentang kondisi kedokteran islam di Indonesia (seperti yang telah saya paparkan sebelumnya) kepada mahasiswa kedokteran muslim agar mereka dapat mulai menyusun dan menimbang kontribusi seperti apa yang akan mereka berikan.


Selain itu, solusi lain dari saya :
  1. Menyusun sebuah konsep ”standar kompetensi dokter muslim”, agar mahasiswa kedokteran mengetahui kompetensi apa saja yang seharusnya ia kembangkan dalam proses persiapannya menjadi dokter (contoh : kompetensi untuk menentukan hukum dari suatu tindakan medis)
  2. Memperbanyak kegiatan yang bersifat kajian, terutama tentang kedokteran islam. Seperti :
  • Pengkajian ayat-ayat Al-qur’an yang dapat dijelaskan dalam ilmu kedokteran
  • Ibadah-ibadah dalam islam yang bermanfaat bagi kesehatan (contoh : manfaat shalat tahajjud yang dapat meningkatkan imunitas, manfaat puasa ramadhan,dsb)
  • Isu-isu kedokteran terkini, dan pembahasan hukumnya dalam islam (contoh : bagaimana hukum dari aborsi, obat batuk yang mengandung alkohol,dsb)
  • Pembahasan tentang sejarah kedokteran islam
  • Pengkajian tentang keajaiban dalam tubuh manusia untuk meningkatkan keimanan (seperti proses sperma yang dapat mengenali ovum sebelum terjadinya fertilisasi, dsb)
  • Pengobatan ala nabi (tibbun nabawi, seperti bekam, madu, habbatussauda,dsb)
  • Membuka sebuah forum diskusi mengenai sistem Rumah Sakit Islam di Indonesia, seperti apakah sistem yang ideal, bagaimana cara maintenance-nya, dsb

Segitu dulu pemaparan dari saya tmn2, mudah2an pemikiran ini dapat memberikan inspirasi baru bagi calon-calon dokter muslim untuk berjuang bersama di jalan ini. Ditunggu masukan lainnya ya tmn2 =)

Mahda ahdun naumi ya ikhwah, Laa rahata lil mu’min illa fi jannah
Sudah lewat waktu untuk tidur wahai saudaraku, tak ada istirahat bagi seorang mu’min kecuali di surga..

Semoga bermanfaat^^


read more...

Bicara soal Cinta..


Sahabatku, mlm ini seolah-olah bait2 ekspresi cinta ini terasa begitu bermakna,

bait yang dikutip dari pesan seorang saudari yang kini tengah menyelesaikan studinya di jogja (jazakillah yuri)^^

Sayap yang Tak Pernah Patah

Mari kita bicara tentang orang-orang yang patah hati. Atau kasihnya tak
sampai, atau cintanya tertolak.
Seperti sayap-sayap Gibran yang patah.
Atau kisah kasih Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal
Vanderwicjk tenggelam.
Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka
‘majnun’, lalu mati.

Atau, jangan-jangan ini juga cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas ditempa takdir, atau layu tak berbalas.

Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu disana.

Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap di tengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung.
Oh burung, adakah yang mau meminjamkan sayap.
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati.

Mari kita ikut berbelasungkawa untuk mereka. Mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani.

Atau, jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.

Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai disana.
Apabila ada cinta dihati yang satu, pastilah ada cinta di hati yang lain,” kata Rumi, “Sebab tangan yang satu tak kan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain”. Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain.

Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah, maka cinta yang lain
hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah hati
yang paling hakiki yaitu : Selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.

Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat. Kita tak perlu kecewa atau terhina dengan
penolakan, atau lemah atau melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung: mencintai.

Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang sesungguhnya terjadi hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu.

Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian, jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu.

Para pecinta sejati selamanya hanya bertanya:
Apakah yang akan kuberikan?” Tentang kepada “siapa” sesuatu itu
diberikan, itu menjadi sekunder.

Jadi tidak hanya patah atau hancur karena lemah. Kita lemah karena
posisi jiwa kita salah.
Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya.
Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita.

(Anis Matta- Serial Cinta)
read more...