Kisah Subuh


Azan subuh berkumandang, kali ini bukan untuk membangunkan kami dengan “asshalatu khairu mina an-naum” nya..

Lempengan panas setrika sudah menggilas jilbab-jilbab kami yang mulai kusut disimpan dalam semalam,
Kami harus bergegas!

Dinginnya hawa subuh melunturkan kantuk yang menyelimuti mata dan kelopaknya, seperti salah satu motto iklan
”dingin, menyegarkan!”

Pintu asrama berderit, bel berbunyi, suasana subuh mulai ramai..

Dalam perjalanan, kami disambut oleh taburan bintang dan senyuman rembulan. Bersih dan jelas, sambil membayangkan mereka mengatakan :
”Assalamualaikum, hamba Allah. Kami menjadi saksi atas keinginanmu memuliakan subuh”

Well, itu hanya selintas kenangan kami di masa lalu...
Kini, rutinitas menyenangkan itu tidak mudah kami lakukan, namun kami sungguh merindukannya..

-untuk sahabat2 subuh-
MAN Insan Cendekia Serpong

read more...

EKG

Seorang guru pernah berkata:

"... EKG hidup dan dapat memberi kita informasi kalau kita mengetahui ilmunya. Dari EKG kita dapat mengetahui apakah Myocard Infarction seseorang itu baru atau lama. Karena apabila terjadi sesuatu pada tubuh kita, selalu ada jejak di sana, baik pada tingkat molekuler maupun organ. Ini juga yang terjadi pada kehidupan kita. Anda berada di sini saat ini, suatu saat nanti ada rekamannya..."


-mengumpulkan memori yang terserak-
read more...

Opini : My Name is Khan


Film ini sudah diputar semenjak beberapa waktu yang lalu. Bahkan di bioskop dekat kampus pun billboard-nya sudah tidak dipampang lagi. Tapi ternyata –aneh memang- bioskop ini masih memutar film itu.
Kenapa billboard-nya ngga dipasang ya?

“Malu kali sof, kan keliatan jomplangnya tuh kalo disandingin sama film Indonesia yang sekarang2 ini”
Well, saya bukan mau mengkritisi tentang film Indonesia –yang entah kemana perginya lembaga sensor- semi sensual yang berkedok film horor itu.
Saya lebih tertarik membahas film sensasional berjudul ”My Name is Khan”

Di awal film, saya tertarik dengan pernyataan Risvan Khan saat berbicara kepada petugas bandara yang memeriksa barang-barangnya habis-habisan
“My name is Khan, ..and I’m not a terrorist”
Cool.. saya suka dengan alur penuh “goncangan paradigma” yang dibawakan oleh film ini. Khan bangga mengakui dirinya sebagai seorang muslim & yes, muslims are not a terrorist

Kemudian, cerita ini juga menggambarkan mengenai bagaimana kejadian WTC 9/11 telah membuat penduduk muslim dipojokkan di U
SA. Diskriminasi dalam hal pekerjaan, larangan berhijab, caci maki, sampai penganiayaan dan pembunuhan yang dialami oleh anak dari istrinya.


Film ini juga menggambarkan bahwa sebetulnya Islam tidak mengajarkan kekerasan, hingga dikutip satu ayat –yang juga diangkat oleh Presiden Obama dalam pidatonya di Kairo- :

“..barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia..” (Al-Maidah : 32)

Sangat jelas disebutkan bahwa Islam sangat menghargai sebuah kehidupan, sangat jauh dari kata “terrorist” yang dinobatkan oleh pihak-pihak yang tidak mengenal Islam secara komprehensif.

Film ini memberikan pesan baru kepada masyarakat dunia bahwa Islam bukan seperti yang mereka kira. Untuk itu saya merasa perlu memberikan acungan jempol kepada film ini.
Hanya saja, film ini tidak hanya mengkutub kepada hal tersebut. Ada kutub lain yang saya deteksi disini, mari kita simak adegan ketika Khan masih kecil dalam asuhan
ibunya.

Dalam adegan ini, ibu Khan mencoba mengajarkan moral kepada anaknya. Beliau menggambarkan dua kondisi di atas kertas. Yang pertama seorang anak yang sedang memukul temannya, yang kedua seorang anak yang sedang memberikan permen lollipop.

Ibu : Now Iook. TeII me who is hindu and musIim amongst them?
Khan : they both look same.

Kemudian muncul statement dari Ibu Khan (yang membuat saya terheran-heran) :
“Remember one thing. In this worId there are onIy two kinds of peopIe. Good peopIe
who does good things. and bad who does bad things. That's the onIy difference between human. Nothing eIse”
Hmm.. ada suasana brainwash tentang perlunya beragama disini..

Ditambah lagi Khan yang menikah dengan wanita berbeda agama. Sekilas mungkin kita akan melihat tidak adanya masalah disana, tapi disini saya mencoba untuk memberikan perspektif yang berbeda.


Saya tidak dapat membayangkan bagaimana kondisi anak yang dididik dengan kedua orangtua yang berbeda keyakinan. Agama, bukan hanya sekedar sebuah predikat. Agama bukan hanya formalitas ritual. Islam adalah sebuah keyakinan yang dipegang teguh, pegangan dalam menjalani kehidupan. Islam menjadi jawaban dalam setiap persoalan, karena Islam membawa keyakinan akan Allah. Dan keyakinan kepada Allah-lah yang menjadi sumber ketenangan dan kebahagiaan.
Mungkinkah seorang anak tumbuh dalam kebimbangan beragama...?

Di akhir cerita, film ini menggambarkan juga tentang bagaimana interaksi saling tolong menoling antar manusia dalam adegan Khan dan penduduk muslim Amerika berusaha membantu masyarakat kristen Georgia dalam musibah banjir.
Ya, tentu tolong menolong dalam kemanusiaan tidak mempermasalahkan keyakinan, seperti Rasulullah yang memberikan keamanan saat fathul Mekkah kepada penduduk yang mengusirnya dulu.

Juga mengenai kebebasan tiap-tiap orang untuk memeluk keyakinan masing-masing, yang tergambar ketika kakak ipar Khan, seorang wanita muslimah (yang merupakan seorang dosen di salah satu universitas) kembali berani mengenakan jilbabnya dan berstatement :
I'm teaching you about me presence, when even my presence has changed. My obscure is not onIy symboI of my reIigion. My obscure is my existence.

Sekian, semoga bermanfaat :)

read more...

Cahaya

Bolehkah jika saya mengatakan bahwa setiap manusia menyukai cahaya..?



sehingga begitu banyak manusia yang datang berduyun-duyun untuk menyaksikan pesta kembang api yang berkilau membelah gelapnya langit di malam tahun baru..


dan tidak mengherankan jika menu makanan di restaurant yang terletak di Dago Pakar atau puncak gunung lainnya melambung harganya, hanya karena dari spot itu kita bisa memandangi city-light dari kejauhan..
so romantic.. memang..:)


di pusat kota, gedung-gedung berlomba-lomba “memegahkan diri”nya dengan sentuhan-sentuhan lampu yang tidak saya mengerti..
apakah cahaya lambang kemegahan?

sampai-sampai banyak wanita yang sangat tertarik untuk ”menyelipkan” cahaya-cahaya kecil di bagian-bagian tubuhnya, jemari, pergelangan tangan, leher, dan sebagainya

dan bukan hal yang baru, ketika para wisatawan rela mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk menikmati sunrise dan sunset di tempat wisata favorit..
karena pesona lembayung di horizon selalu terlihat begitu eksotis

ya.. cahaya selalu mempesona..
dimanapun adanya, seperti apapun bentuknya..

tahukah engkau, kawan..
ada cahaya yang jauh lebih indah lagi..
kita menyebutnya “cahaya di atas cahaya”..

“Allah, (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah Memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia Kehendaki, dan Allah Membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nur : 35)

Cahaya di atas cahaya, yang menerangi langit dan bumi, juga hati kita..

-28 Maret 2010 : melintasi gemerlap ibu kota-

read more...

Melatih Sikap Anak Terhadap Uang


Saudari2ku tersayang, berikut ini saya coba tuliskan beberapa tips untuk melatih “si kecil”, (calon) anak2 kita nanti, untuk bersikap arif terhadap -suatu investasi yang biasa kita sebut sebagai- uang :)
check this out!

1. Berikan uang saku
Dengan memberikan uang saku, kita secara tidak langsung mengajak si kecil untuk mulai belajar mengatur “harta” nya sendiri. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan sebelumnya :
  • survey! Coba kita cari tahu berapa harga makanan dan minuman yang dijual di sekolahnya, perkirakan untuk kebutuhan si kecil dalam sehari
  • perkirakan dengan teliti apa jenis pengeluaran yang sering mereka lakukan
  • bertanya kepada tetangga atau ibu orang tua murid tentang uang saku anak-anak mereka
  • perkirakan berapa banyak uang saku yang akan diberikan (termasuk memperhitungkan sepersekian uang-nya untuk ditabung)
  • berikan uang saku dalam bentuk beberapa uang pecahan (misalnya jika kita ingin memberikan uang saku Rp 10.000, maka berikan Rp 5.000 dan beberapa lembar uang Rp 1.000 atau Rp 2.000). dengan demikian, si kecil akan mudah menysihkan uang sakunya untuk ditabung

2. Ajak untuk menentukan tujuan yang ingin dicapai
Ajak si kecil untuk memikirkan tujuan apa yang ingin ia capai, bisa mainan idamannya, sepatu, buku cerita, sepeda, dsb. Kemudian ajak mereka sedikit-sedikit untuk menabung.
Langkah2 selanjutnya :
  • ajak si kecil ke tempat dijualnya barang yang ia inginkan, kemudian kita cari tahu bersama mengenai harganya
  • bantu dia untuk menyusun rencana menabungnya agar tetap proporsional, berapa jumlah uang yang ingin ditabung setiap minggunya, berapa lama kira2 tujuan itu akhirnya dapat terbeli

3. Membuka wawasannya tentang cara mengelola uang

Saat kita pergi ke bank untuk urusan-urusan biasa, sesekali ajaklah si kecil dan kalau perlu bukalah rekening untuk mereka. Dan hari-hari selanjutnya ajak mereka untuk menabung dan memantau tabungannya

4. Biarkan si kecil belajar mengatur sendiri
Tidak kalah pentingnya bagi kita untuk sesekali membebaskan anak-anak dalam berbelanja. Jika memang diperlukan, kita dapat mengajak mereka berbincang dengan terbuka tentang kekurangan dan kelebihan rencana belanjanya. Setelah itu kita berikan kesempatan si kecil untuk menentukan pilihannya. Kebenaran/kesalahan dalam mengambil keputusan dapat menjadi pembelajaran yang baik bagi mereka.

5. Didik si kecil menyayangi barang-barangnya
Seringkali kita melihat anak-anak begitu mudah menelantarkan barang-barangnya, bahkan tidak jarang laporan ”mainan rusak” yang mereka adukan. Tentunya itu adalah hal yang wajar. Ketika anak-anak sudah mulai besar (5-6 tahun) ada baiknya jika para orangtua mulai memberikan pemahaman tentang perlunya memelihara barang yang dimiliki

Ada sebuah metode yang mungkin bisa diterapkan agar si kecil belajar menyayangi barang-barangnya, yaitu metode gadai.

Contohnya : ketika kita membelikan si kecil barang-barang kebutuhannya seperti sepatu. Kita tantang mereka untuk menggadaikan sebagian dari uang tabungannya untuk menjamin sepatu barunya tidak rusak ataupun hilang. Jika dalam kurun waktu (misalnya 6 bulan) sepatu tersebut awet, maka si kecil berhak memperoleh kembali uang tabungannya. Cukup simple kan? :)

Namun saudari2ku, setelah kita berpanjang lebar berbicara mengenai tips2 menimbulkan semangat hemat dan menabung pada si kecil, kita juga harus menyeimbangkan pola pikir si kecil dengan kebiasaan bersedekah.

Kegiatan-kegiatan seperti mengajak anak-anak berkunjung ke tempat-tempat yang membutuhkan (panti asuhan, daerah pinggiran kota, dsb), mengajak mereka memperhatikan lingkungan sekitar, dan mengajarkan untuk berempati adalah poin penting yang perlu ditanamkan.

Dan yang terpenting, berikan pemahaman kepada anak2 untuk meletakan harta di TANGAN-nya, bukan di HATI-nya :)

-terinspirasi dari buku manajemen keuangan keluarga (Hazeline Ayoeb,dkk) dikolaborasikan dengan syuro internal otak-

read more...